liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
5 Rekomendasi Wisata Majene di Sulawesi Barat

Kabupaten Majene merupakan salah satu daerah yang terletak di pesisir barat Provinsi Sulawesi Barat. Sebagian besar penduduk Majene adalah penduduk asli Sulawesi Barat, Suku Mandar.

Secara geografis Kabupaten Majene memiliki kontur wilayah yang seperti palung, sehingga daerah ini memiliki bentang alam pegunungan dan lembah sekaligus. Pesona alam kawasan ini menjadi daya tarik wisata Majene.

Meski potensi wisata Majene belum banyak diketahui wisatawan, namun pesonanya tetap layak menjadi salah satu destinasi liburan yang direkomendasikan.

Dilansir dari situs dispar.sulbarprov.go.id, berikut rekomendasi destinasi wisata Majene bagi wisatawan.

1. Pantai Dato

Pantai Dato dibuka pada tahun 1998. Pantai ini terletak di Dusun Pangale, Desa Baurung, Kecamatan Banggae Timur. Daya tarik pantai ini adalah adanya pasir putih dan pemandangan terumbu karang. Di sepanjang pantai, wisatawan bisa menjumpai kepiting, kerang, dan hewan laut kecil.

Dengan perairan lepas pantai yang cenderung tenang dan dangkal, banyak aktivitas yang bisa dilakukan di pantai ini, mulai dari bermain pasir, berenang, memancing hingga menyelam. Di dalam airnya terdapat terumbu karang yang masih terjaga dengan baik.

Di kawasan wisata Majene ini, wisatawan juga bisa mencicipi kuliner khas Majene seperti ikan terbang dan ikan seribu. Bahkan, jika wisatawan berkunjung ke Pantai Dati pada Agustus hingga September, mereka berkesempatan untuk menyaksikan Sandeq Race atau lomba perahu biasa Mandar.

2 Makam Raja Banggae

Makam Raja-Raja Banggae terletak di Jalan Ondongan, Desa Pangali-ali, Kecamatan Banggae. Keberadaan kuburan ini bisa menjadi bukti keberadaan peradaban Mandar. Kompleks ini merupakan tempat pemakaman raja-raja atau anggota mara’dia dan Banggae hadat.

Munculnya Banggae hadat sendiri diperkirakan pada masa pemerintahan Daenta Melanto (Mara’dia Banggae II) saat Totoli bergabung dengan kerajaan Banggae.

Total ada 471 makam di kompleks seluas 1,6 hektar ini menjadikannya sebagai kompleks makam tradisional terbesar di Sulawesi Barat. Keunikan kompleks adat ini adalah kuburannya terbuat dari batu atau batu berukir.

Bentuk makamnya juga lebih besar dan terdiri dari batu yang dipahat sedemikian rupa dengan sistem pengunci yang tidak mudah lepas. Di dalam makam juga terdapat berbagai motif ukiran seperti kaligrafi, geometri, swastika, hiasan antropomorfik dengan motif manusia dan hewan, serta motif bunga.

Namun, tidak ada prasasti atau petunjuk tertulis yang menjelaskan siapa yang dimakamkan dan kapan.

3. Buttu Pattumea

Buttu Pattumea merupakan destinasi wisata yang memiliki perpaduan antara keindahan alam, pegunungan dan sejarah. Tempat wisata yang satu ini terletak di Dusun Timbogading, Kampung Betteng, Pamboang atau kurang lebih 22km dari pusat kota Majene. Akses menuju Buttu Pattumea dapat ditempuh melalui Jalan Trans Sulawesi menuju Pasar Pamboang di Desa Tinambung hingga Desa Betteng.

Setibanya di Buttu Pattumea, wisatawan akan disambut dengan pemandangan gunung yang terbentang luas dan menjulang tinggi. Dari ketinggian, panorama sekitarnya sangat menakjubkan, mulai dari birunya laut, hingga permukiman di sekitar Majene, hingga kelap-kelip lampu di malam hari.

Fasilitas di Buttu Pattumea juga sudah disediakan untuk wisatawan seperti kolam renang, spot foto, hall, cafe dan gazebo. Selain itu, ada juga tugu bersejarah Kota Ammana I Wewang yang tingginya 4,2 meter.

4. Pusat Memasak Somba

Kawasan kuliner ini merupakan surganya pecinta kuliner. Wisatawan bisa menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari ibu kota kabupaten Majene untuk sampai ke sini. Wisatawan dapat menikmati berbagai makanan khas Majene seperti masakan Jepang atau sering disebut dengan ‘tomandar pizza’ atau pizza mandar.

Harga yang ditawarkan tidak akan menguras dompet. Untuk menyantap makanan Jepang lengkap dengan ikan terbang bakar, harganya mulai dari Rp 20.000.

5.Museum Mandarin

Museum Mandar terletak di Jalan Raden Suradi No. 17, Kecamatan Banggae. Museum ini memiliki 1.304 koleksi yang terdiri dari koleksi geologi, geografi, numismatik, heraldik, filologi, keramik, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, seni rupa dan teknologi.

Memasuki museum, wisatawan akan melihat nuansa berada di rumah sakit. Memang bangunan ini awalnya berfungsi sebagai rumah sakit dan dibangun oleh Belanda puluhan tahun sebelum kemerdekaan.

Beberapa koleksi yang ada di museum antara lain Mara’dia (Raja) dan gaun pengantin tradisional aristokrat atau Topia yang sepenuhnya disesuaikan dengan status sosial. Kemudian ada juga koleksi alat musik tradisional Mandar seperti ganrang, sattung, kanjilo, dan permainan tradisional seperti gasing dan pakkaracagang.

Di museum ini juga terdapat ular sawah yang diawetkan dengan panjang sekitar 8 meter.

Di sayap kiri bangunan terdapat bangunan kerajaan Pamboang, Sendana, Banggae, dan silsilah raja-raja Balanipa Mandar, dari raja pertama I Manyambungi sampai raja ke-53 I Puang Monda’.

Selain itu, terdapat ruangan tempat menyimpan replika 3 panji besar, yaitu I Macan dari kerajaan Banggae, I Naga dari kerajaan Pamboang, dan Cakkuriri dari kerajaan Sendana.

Koleksi unik lainnya yang ada di Museum Mandar adalah arca batu berbentuk kepala manusia, tiga buah cincin raksasa, sarkofagus, koleksi motif sarung Mandar, miniatur rumah adat, alat tradisional, alat tenun, alat pertanian dan perikanan, senjata tradisional, dan alat tradisional. upacara. peralatan, dan perhiasan. .