liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
6 Tarian Khas Jawa yang Populer di Tanah Air

Tari Jawa merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Jawa. Daerah yang terkenal dengan tarian Jawa adalah Yogyakarta dan Surakarta. Kedua kerajaan pewaris tahta Mataram ini telah lama menjadi pusat kebudayaan Mataram.

Mengutip culture.kemendikbud.go.id, gerakan tari khas Jawa biasanya teratur, tenang, halus, dan lambat. Biasanya tarian khas Jawa diasosiasikan dengan budaya keraton Jawa yang anggun, halus, dan maju. Namun, tarian Jawa juga termasuk tarian rakyat jelata dan penduduk desa di Jawa.

Tari Jawa memiliki gaya dan filosofi yang berbeda dibandingkan dengan tradisi tari Indonesia lainnya. Selain itu, tari Jawa memiliki kualitas meditatif dan cenderung lebih self-reflektif, mawas diri, dan lebih berorientasi pada pemahaman diri.

Tari Jawa diasosiasikan dengan wayang orang dan adat keraton Yogyakarta dan Surakarta. Tari Jawa merupakan warisan sakral dari nenek moyang para penguasa keraton. Melalui tari Jawa, mereka memberikan pendidikan moral, ekspresi emosi, dan penyebaran budaya Jawa.

1. Tari Gambyong

Gambyong adalah salah satu jenis tari klasik Jawa yang berasal dari daerah Surakarta dan biasa dipentaskan untuk pertunjukan atau penyambutan tamu.

Gambyong bukan hanya satu tarian tetapi terdiri dari berbagai koreografi, yang paling terkenal adalah Tari Gambyong Pareanom (dengan beberapa variasi) dan Tari Gambyong Pangkur (dengan beberapa variasi). Meski banyak jenisnya, tarian ini memiliki gerakan dasar yang sama yaitu gerakan tari tayub/tlèdhèk.

Awalnya gambyong diciptakan untuk seorang penari tunggal, namun sekarang lebih sering dibawakan oleh beberapa penari dengan tambahan elemen pembatas panggung yang melibatkan garis besar dan gerakan.

2. Tari Udang

Tarian ini dibawakan oleh empat orang penari wanita yang mengenakan kostum kain lapuh atau kain batik dengan latar belakang putih dan baju tanpa lengan.
Selain menggunakan kostum dan tata rias khusus, penari Srimpi juga menggunakan hiasan kepala yang disebut jamang. Selain itu, ada juga klip yang digunakan di kedua telinga.

Tari Srimpi menggambarkan pertarungan antara dua anak laki-laki dengan mengambil latar dari epos Mahabharata atau cerita Menak. Agar terlihat lebih serasi, tari srimpi ditarikan oleh empat orang penari yang merupakan dua pasang tanding.

Secara keseluruhan, pertarungan dalam tari Srimpi menggambarkan pertentangan antara kebaikan dan kejahatan.

3. Tari Bedhaya

Tari Bedhaya sudah ada sejak masa pemerintahan Sultan Agung. Tari bedhaya terbagi menjadi dua jenis, yaitu bedhaya ketawang dan bedhaya semang.

Tari bedhaya ketawang diciptakan oleh Sultan Agung dan merupakan tarian warisan Keraton Surakarta. Sedangkan tari bedhaya diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwono II dan menjadi tari pusaka di Keraton Yogyakarta.

Kedua jenis tari bedhaya ini dianggap sakral. Sebab, selama tari bedhaya dipentaskan, berbagai pertunjukan mengiringinya.

Tari Bedhaya biasanya ditarikan oleh sembilan penari wanita berseragam.

4. Tari Payung Bondan

Tari Payung Bondan merupakan salah satu jenis tari tradisional Surakarta. Sesuai dengan namanya, tarian tradisional Jawa ini memiliki ciri khas berupa payung kertas, serta lilin dan wayang yang dibawa oleh para penarinya.

Menurut sejarahnya, tari Payung Bondan merupakan tarian wajib yang harus dimainkan oleh desa kembang untuk memahami identitasnya sendiri. Dengan memainkan tarian ini, mereka akan terlihat seperti sosok seorang ibu yang merawat anak dan suaminya.

Filosofi yang terkandung dalam tarian ini adalah gambaran seorang istri yang tidak hanya cantik, tetapi harus bisa mengasuh, mendidik, menyayangi dan melindungi anaknya.

5. Tari Golek Menak

Tari Golek Menak disebut juga Beksan Golek Menak atau Beksan Menak yang berarti tari wayang Menak Golek. Tarian khas Jawa ini bergenre drama tari ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940-1988).

Ide penciptaan tarian ini dicetuskan oleh Sultan setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari Kedu pada tahun 1941. Dramawan Golek Menak menceritakan kisah-kisah yang diambil dari Serat Menak. Serat Menak berasal dari Hikayat Amir Hamzah yang dibawa oleh para pedagang Melayu dan disebarkan ke seluruh Nusantara.

6. Tari Lawung Ageng

Beksan Lawung Ageng adalah salah satu tarian peninggalan Keraton Yogyakarta yang menggambarkan ketangkasan para pendekar tombak ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755 – 1792) yang terinspirasi dari latihan watangan atau ketangkasan kuda dengan bermain tombak.

Melalui tarian khas Jawa ini, Sri Sultan menanamkan nilai-nilai keberanian dan ketangkasan seorang prajurit keraton. Selama lebih dari dua abad, tarian khas Jawa ini menjadi sarana pembentukan karakter ksatria melalui latihan fisik dan mental yang disiplin.

Dalam perkembangannya, Beksan Lawung Ageng dimasukkan sebagai tarian upacara sehingga selain dipertunjukkan pada upacara perkawinan pangeran dan putri raja, juga dipertunjukkan untuk menyambut tamu kerajaan atau pada upacara-upacara nasional/kerajaan.