liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
APEKSI Bersama GIZ Dorong Penciptaan Pasar Tenaga Kerja yang Inklusif

Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) bekerjasama dengan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) mengadakan kick-off meeting Pengarusutamaan Pusat Ketenagakerjaan Inklusif (Inclusive Employment Center) bagi Pemerintah Kota.

Acara bersama lembaga kerja sama internasional pemerintah Jerman untuk pembangunan berkelanjutan ini diselenggarakan pada 18 Januari 2023 secara hybrid di Zoom Meeting & Hotel JS Luwansa Kuningan, Jakarta.

Inclusive Employment Center (IJC) yang dikembangkan oleh Social Protection Project (GIZ SPP) bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan merupakan konsep membangun ekosistem yang mendorong pemberdayaan dan integrasi penyandang disabilitas ke pasar kerja.

Selain itu, memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk memasuki pasar tenaga kerja formal melalui peningkatan kapasitas sesuai kebutuhan perusahaan dan kesempatan kerja yang tersedia.

Dengan kata lain, IJC adalah alat untuk menciptakan pasar kerja inklusif (ILM) yang memberikan akses dan kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas.

Hal ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah No. 60/2020 tentang Unit Layanan Disabilitas Bidang Ketenagakerjaan (ULD) yang mewajibkan pemerintah daerah untuk membentuk ULD dan memberikan layanan berkualitas bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan.

Oleh karena itu, inovasi melalui IJC dalam membangun pasar kerja yang inklusif di Indonesia harus disebarluaskan dan disosialisasikan kepada pemerintah kota. Hal ini dikarenakan pemerintah daerah berperan penting dalam memberikan pelayanan kepada penyandang disabilitas untuk mendapatkan hak kerja yang setara.

Ketua Pengurus APEKSI/Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, permasalahan yang masih ada adalah belum bisa memaksimalkan bonus demografi termasuk cara memfasilitasi penyandang disabilitas dan kelompok rentan lainnya.

Kota inklusif diharapkan menjadi tujuan agar kota mampu memfasilitasi seluruh komponen masyarakat termasuk sesama penyandang disabilitas dengan membuka sumber ekonomi dan mata pencaharian yang dapat diakses secara merata.

Menurut Bima, Sentra Ketenagakerjaan Inklusif merupakan sebuah konsep yang diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam memfasilitasi rekan-rekan difabel dalam membangun pasar kerja yang inklusif.

“Kalau dibangun pentahelix, tidak hanya akan menciptakan permintaan lapangan kerja, tapi juga berkontribusi pada peningkatan keterampilan. Penyandang disabilitas diharapkan juga berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Sebanyak 157 peserta yang terdiri dari walikota/pejabat pemerintah kota (APEKSI), kementerian terkait, asosiasi pemerintah daerah, organisasi penyandang disabilitas, CSO, BUMN, swasta, perguruan tinggi/lembaga penelitian dan media menghadiri upacara secara luring. Selain itu, 156 peserta bergabung secara online dalam rapat Zoom.

Peserta mendengarkan dan terlibat dalam diskusi langsung untuk melihat bagaimana IJC diterapkan oleh industri tekstil di Sukoharjo, pariwisata berkelanjutan di Bali, digitalisasi dan teknologi untuk tunanetra di Jakarta, dan pengembangan bisnis bagi penyandang disabilitas di Yogyakarta.

Alwis Rustam, Direktur Eksekutif APEKSI mengatakan, program ini terdiri dari beberapa kegiatan seperti evaluasi, penyusunan pedoman, dan pembuatan materi edukasi/kampanye dalam bentuk infografis dan video.

Selain itu, ada pelatihan, seminar nasional, talk show di radio, dan forum penyatuan yang akan dilaksanakan hingga Februari 2023. Program ini melibatkan Pokja APEKSI Menuju Kota Inklusif yang sudah terbentuk sejak 2017.

Jeff Kristianto dari Bedo mengatakan penting untuk membangun ekosistem ini karena selama ini para difabel masih mengalami banyak tantangan seperti biaya untuk difabel lebih besar dari pendapatannya.

Sementara itu, menurut Kepala Departemen Kesehatan Jiwa dan Disabilitas Yayasan SATUNAMA, Karel Tuhehay, saat memasuki dunia kerja, para penyandang disabilitas masih belum percaya diri karena lingkungan membuat mereka kurang percaya diri untuk memasuki pasar tenaga kerja.

Cut Sri Rozanna, Direktur Program Perlindungan Sosial GIZ mengatakan, Pusat Ketenagakerjaan Inklusif diadakan dengan tujuan menjadikan penyandang disabilitas dari penerima bantuan ekonomi menjadi penyumbang ekonomi di Indonesia.

“Tidak hanya membuka lapangan kerja, tapi juga memberdayakan difabel. Karena prinsip dasar dalam pelaksanaan IJC adalah pemberdayaan yang terintegrasi dan menyeluruh dari hulu ke hilir, keberlanjutan dan perlindungan,” ujarnya.

Hal ini ditekankan oleh Edy Supriyanto, Ketua Yayasan SEHATI, bahwa Sentra Ketenagakerjaan Inklusif dapat menjadi strategi untuk mengurangi kemiskinan ekstrim di Indonesia.

Sementara itu, menurut Deputi Direktur Pelayanan dan Pengembangan Saluran Ketenagakerjaan BPJS Kesehatan Isnavodiar Jatmiko, pihaknya telah melaksanakan program Return to Work sebagai upaya awal membangun Pusat Kerja Inklusif. Ingat, hampir 30 orang per hari mengalami kecelakaan kerja.

Sementara itu, Wali Kota Metro Wahdi Siradjuddin selaku Ketua Pokja APEKSI Menuju Kota Inklusif menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak hanya menerbitkan peraturan daerah tetapi membutuhkan tindakan nyata dengan memberikan ruang dan kesempatan yang sama bagi semua.

“APEKSI melalui program ini tidak hanya untuk 28 kota Pokja tetapi akan berusaha mengajak dan menyampaikan kepada seluruh pemerintah kota agar siap menjadi kota inklusif di masa mendatang,” ujarnya.