liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Harga Komoditas & Daya Beli Tentukan Nasib Industri Otomotif Tahun Ini

Penjualan mobil diperkirakan akan melemah tahun ini karena beberapa faktor. Namun, kenaikan harga komoditas bisa menjadi pembeda dan penggerak industri otomotif tahun ini.

Kemungkinan melemahnya kinerja industri otomotif tercermin dari survei konsumen yang dilakukan Inventure-Alvara pada akhir tahun 2021.

Survei Inventur-Alvara menunjukkan bahwa 61,8% lebih memilih menggunakan angkutan umum pada tahun 2022 daripada kendaraan pribadi. Selain itu, sentimen pembelian kendaraan pada triwulan IV 2021 stabil dan cenderung menurun.

Sebagai informasi, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan penjualan mobil pada 2021 mencapai 887.200 unit. Angka tersebut melonjak 67% dibanding tahun 2020 (532.407 unit).

Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra mengatakan meningkatnya minat masyarakat menggunakan angkutan umum tidak selalu berbanding lurus dengan penurunan penjualan mobil.

Menurutnya, faktor yang paling menentukan performa otomotif di dalam negeri adalah tingkat daya beli masyarakat.

“Coba bandingkan pasar mobil dan angkutan umum (di Jepang) masih sangat tinggi (tingkat kepemilikan mobil per kapita) per tahun, bisa sampai 4 juta. Kami sendiri (sekitar) 800 ribu (tahun 2021). Artinya angkutan umum bukan halangan bagi perkembangan industri otomotif, kepemilikan mobil tetap diperlukan,” kata Amelia dalam Kajian Industri Indonesia 2022, Rabu (9/2).

Amelia menambahkan, tanda-tanda peningkatan daya beli masyarakat sejak akhir 2021 terlihat dari peningkatan penjualan mobil niaga oleh perusahaan seperti Gran Max.

Kenaikan pembelian mobil niaga pada akhir tahun diduga disebabkan oleh kenaikan harga komoditas, khususnya minyak sawit mentah (CPO).

Sebagai informasi, ada jutaan penduduk Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan, yang menggantungkan mata pencahariannya pada LSL.

Kenaikan harga MKM akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan daya beli mereka.

Amelia meyakini investasi pemerintah dalam perbaikan dan pembangunan infrastruktur juga akan mempercepat peningkatan daya beli masyarakat. Situasi ini akan menguntungkan industri otomotif.
“Begitu mobil komersial meningkat, ekonomi tumbuh, PDB meningkat, daya beli dan pasar mobil meningkat,” kata Amelia.

Amelia mencatat ada peningkatan kinerja penjualan mobil di awal 2022. Amelia mencatat penjualan mobil per Januari 2022 meningkat 48,14% secara tahunan menjadi 80 ribu unit dari 54 ribu unit.

Amelia juga menilai kinerja industri pembiayaan atau leasing kendaraan bermotor akan berdampak besar.

Pasalnya, Amelia menyebut pembelian kendaraan bermotor melalui perusahaan leasing mencapai 80% dari total penjualan kendaraan bermotor di Tanah Air.

Penjualan grosir Daihatsu sepanjang 2021 mencapai 169.908 unit, naik 87,29% secara tahunan menjadi 169.908 unit dari 90.724 unit. Sedangkan penjualan ritel meningkat 51,06% menjadi 151.107 unit.

Penjualan mobil Daihatsu tahun 2021 terbanyak terjadi pada Desember 2021 atau mencapai 18.157 di retail.

FYI, secara historis penjualan mobil biasanya meningkat menjelang akhir tahun. Salah satunya terbantu dengan banyaknya pameran mobil yang berlangsung di penghujung tahun.

Amelia menilai membaiknya kinerja perseroan pada 2021 karena pemberian insentif pajak pertambahan nilai atas barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM DTP).

Amelia menyarankan konsumen untuk melakukan pembelian dengan cepat tahun ini. Pasalnya, insentif PPnBM DTP akan dikurangi tahun ini.

Sebagai informasi, PPnBM DTP untuk low cost green car (LCGC) tetap mendapatkan insentif PPnBM DTP secara penuh, namun hanya sampai akhir kuartal I 2022. Insentif tersebut akan terus berkurang dan tidak lagi diberikan di awal. kuartal keempat tahun 2022.

Sementara itu, insentif PPnBM DTP untuk mobil di bawah Rp250 juta juga akan diturunkan menjadi 7,5% pada triwulan I 2022. Setelah itu, PPnBM mobil di bawah Rp250 juga akan berjalan seperti biasa atau sebesar 15%.

“Kami bersyukur atas insentif ini meski tidak lebih besar dari tahun lalu. Tapi dengan adanya insentif dan tumbuhnya daya beli, saya yakin (kinerja) industri otomotif akan meningkat (tahun ini),” ujar Amelia.

Reporter: Andi M. Arief