liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Kisah Nyai Dasima Tokoh Fiksi yang Hidup di Batavia

Nyai Dasima adalah salah satu cerita legenda yang berkembang di kota Jakarta. Kisah hidup Sang Nyai bukan sekedar kisah cinta. Kisah Nyai Dasima melestarikan sentimen rezim kolonial terhadap dilema agama.

Kisah Nyai Dasima sangat melegenda di Jakarta karena namanya Batavia, sehingga orang mengira bahwa Nyai Dasima benar-benar sosok yang hidup di masa lampau. . dan penjajah Inggris. Mereka adalah perempuan pribumi yang tinggal serumah dengan laki-laki Eropa yang memegang jabatan tinggi.

Nyai dijadikan gundik atau peliharaan perempuan oleh laki-laki Eropa. Mereka hidup sebagai suami istri, meski memiliki anak, namun tanpa ikatan pernikahan atau ikatan perkawinan.

Latar Belakang Karakter Fiksi

Diambil dari buku Kisah Gila Sekitar Djakarta Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM, Nyai Dasima lahir di Desa Kuripan, Bogor, Jawa Barat. Setelah beranjak dewasa, ia mencoba peruntungan di Batavia.

Di kota ini, Nyai Dasima bekerja pada seorang pria kaya Inggris bernama Edward Williams. Pria ini adalah orang kepercayaan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles. Saat itu, secara administratif, Inggris menguasai Hindia Belanda. Raffles menggantikan Gubernur Jenderal Deandels.

Pesona kecantikan Nyai Dasima tidak bisa ditolak oleh tuannya, sehingga dijadikan selir. Awalnya mereka tinggal di Curug, Tangerang. Kemudian pindah ke daerah Gambir, Batavia. Tepatnya di Pejambon, kini di belakang gedung Pertamina dan Kementerian Agama. Di belakang rumah mengalir Sungai Ciliwung yang saat itu masih lebar dan airnya jernih.

Nyai Dasima bersedia menjadi selir, karena pada saat itu jabatan selir dianggap lebih terhormat dari pada pembantu. Para pejabat Belanda dan Eropa yang datang ke Batavia umumnya tidak membawa serta istri mereka. Pada akhirnya mereka lebih memilih untuk memelihara selir.

Sebagai orang kaya, Nyai Dasima dan putrinya berkeliling dengan delman ke Prapatan, Senen, Gang Kenanga, hingga Kampung Kwitang setiap sore. Mereka sering bentrok dengan Samiun, pria Betawi yang sudah beristri.

Samiun pun terpesona dengan kecantikan Nyai Dasima. Namun, Samiun punya rencana licik untuk menikahi Nyai Dasima. Ia menyuruh seorang perempuan tua bernama Mak Buyung untuk berpura-pura menjadi pembantu Nyai. Dengan menjadi pendamping Sang Nyai, perempuan tua itu berhasil membujuk Nyai untuk belajar Islam. Mak Buyung mengatakan bahwa Nyai Dasima berdosa karena telah menjadi “peliharaan” tuannya. Wanita tua itu mengatakan bahwa Nyai Dasima telah melakukan perzinahan.

Menjadi Istri Kedua

Bekerjasama dengan Haji Salihun, Samiun berhasil membujuk dan mengelabui Nyai Dasima agar membenci tuannya. Dasima akhirnya menikah dengan Samiun dan menjadi istri keduanya.

Hayati, istri pertama Samiun, merestui pernikahan tersebut, dengan syarat mereka tidak tinggal serumah. Seiring berjalannya waktu, Samiun semakin mencintai Nyai Dasima dan semakin sering tinggal bersamanya.

Samiun jarang mengunjungi Hayati, wanita yang suka berjudi. Merasa tidak adil, Hayati cemburu dan dengki. Hayati kemudian memerintahkan Bang Puase untuk membunuh Nyai Dasima.

Pembunuhan itu dilakukan saat Nyai Dasima dan Samiun hendak pergi memenuhi undangan ke daerah Rawa Belong. Jenazah Nyai Dasima dibuang ke Sungai Ciliwung dari Jembatan Kwitang, kini lokasinya bersebelahan dengan toko buku Gunung Agung atau di depan Markas Marinir Prapatan.

Keesokan paginya, secara kebetulan, Nancy yang sedang bermain menemukan jasad ibunya terapung di sungai. Kemudian dia meminta bantuan orang-orang untuk mengeksekusi jenazah ibunya. Bang Puase yang merupakan jagoan Kwitang kemudian digantung karena kejahatannya oleh pemerintah kota. Eksekusi dilakukan di depan gedung Balai Kota Batavia atau yang kini dikenal dengan Museum Sejarah Jakarta. Penggantungan itu disaksikan ratusan warga kota.

Kepopuleran kisah Nyai Dasima dihidupkan kembali dalam novel sejarah berjudul Tjerita Njai Dasima karya Gijsbert Francis dalam bahasa Melayu Rendah pada tahun 1893. Francis, seperti penulis Belanda lainnya, memfitnah pihak-pihak yang menentang penjajah Belanda.

Sementara merujuk pada Ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Pramoedya Ananta Toer mengatakan, kisah Nyai Dasima bisa jadi berasal dari puisi cerita berlatar tahun 1813 di Betawi yang dimuat dalam buku Njai Dasima, karya Lie Kim Hok.

Menurut Pram, cerita Nyai Dasima berasal dari cerita populer dalam bentuk lakon karena sering dipentaskan oleh komedian bangsawan, komedian mandiri, dan rombongan Miss Ribut. Bahkan Miss Ribut telah mementaskan lakon tersebut sebanyak 127 kali. Memang naskah ini juga sering dipentaskan di panggung teater di kota Batavia. Kemudian difilmkan, misalnya film Nyai Dasima yang terbit tahun 1929.