liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Melirik Keunikan Desa Wisata Kasongan, Sentra Gerabah Yogyakarta

Berbicara tentang tempat wisata di Yogyakarta memang tidak ada habisnya. Mulai dari wisata alam, kuliner, hingga kerajinan tangan bisa ditemukan di kota ini. Di pinggiran kota, tepatnya di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang cukup bersejarah dan terkenal di kalangan wisatawan.

Desa tersebut dikenal dengan nama Kampung Kasongan. Sebuah desa di Padukuhan Kajen yang terletak di pegunungan rendah dengan tanah kapur. Desa ini sudah lama menjadi sentra kerajinan gerabah di Yogyakarta.

Desa ini memiliki beragam produk gerabah yang dihasilkan oleh warganya, mulai dari piring, kuali, kendi, guci, pot, bingkai, mainan anak, dan berbagai barang lain yang memiliki nilai seni.

Biasanya desa ini ramai dikunjungi oleh wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Kawasan wisata ini juga dapat dijadikan sebagai kawasan wisata edukasi yang cocok untuk dikunjungi oleh siswa sekolah. Siswa dapat melihat dan mempraktekkan pembuatan gerabah di rumah-rumah penduduk setempat.

Pengembangan Desa Wisata Kasongan

Dikutip dari artikel ilmiah Institut Kesenian Yogyakarta berjudul “Kasongan, Berawal dari Kuda Mati”, Agus Surono mengatakan, sejarah gerabah Kasongan dimulai pada masa penjajahan Belanda.

Saat itu, peristiwa mengejutkan terjadi pada warga setempat. Seekor kuda milik Satuan Investigasi Belanda ditemukan tewas di sawah milik warga. Khawatir akan hukuman, pemilik perkebunan menyerahkan hak atas tanahnya dan menolak tanahnya.

Diikuti oleh warga lainnya. Penduduk desa yang tidak memiliki sawah memilih menjadi pengrajin keramik. Para pendahulunya melihat bahwa jika tanah yang menggumpal itu disatukan, ia tidak akan pecah. Dari situ, mereka melanjutkan membuat gerabah untuk peralatan dapur dan mainan anak-anak.

Pada tahun 1971-1972, Desa Wisata Kasongan berkembang cukup pesat. Sapto Hudoyo, seorang seniman besar Yogyakarta, membantu mengembangkan desa wisata dengan membimbing masyarakat yang sebagian besar adalah pengrajin untuk memberikan sentuhan artistik dan komersial pada desain gerabah.

Hal inilah yang membuat gapura yang dihasilkan tidak lagi monoton. Kerajinan tangan yang dibuat di Desa Wisata Kasongan mulai berkembang, tetap memiliki nilai seni namun memiliki nilai ekonomi yang tinggi sesuai kebutuhan pasar.

Kerajinan yang semula hanya terbuat dari tanah liat, kini para perajin di desa Kasongan sudah mulai menggunakan bahan lain yang biasa ditemukan di sekitarnya. Berbagai bahan dasar yang digunakan sekarang antara lain batok kelapa, bambu, rotan, kayu, dan sebagainya.

Selain bahan baku yang beragam, produk yang dihasilkan juga mulai berbeda dengan yang sebelumnya hanya membuat peralatan dapur (kompor, lilin, ketel uap, wajan, dll) dan mainan anak (alat bunyi, celengan, dll). Artinya, masyarakat setempat kini mulai membuat berbagai produk dekoratif dan artistik yang memiliki nilai seni.

Sejak memasuki masa pandemi di tahun 2020, para perajin di Kasongan telah memutar otak untuk beradaptasi dan tetap menjalankan ekonomi. Mereka kini mulai membuat desain countertops dan sink untuk cuci tangan.

Tak hanya itu, jenis produk yang dipasarkan justru meningkat sejak pandemi, yakni pot kaktus. Berukuran 15-30 cm, vas ini dijual dengan harga bervariasi tergantung dekorasinya, mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 60.000.

Produk dan Wisata di Desa Kasongan

Begitu memasuki kawasan Desa Wisata Kasongan, pengunjung akan disuguhkan dengan berbagai produk kerajinan yang tertata rapi. Penduduk desa akan menyambut kedatangan wisatawan yang datang untuk melihat kerajinan tangan di ruang pamer atau showroom.

Tidak hanya melihat produk kerajinan tangan, pengunjung juga bisa melihat proses pembuatannya bahkan berkesempatan untuk praktek langsung membuat gerabah di rumah pengrajin. Mulai dari menggiling, membentuk bahan, hingga mengeringkan produk yang biasanya memakan waktu 2-4 hari.

Produk yang sudah dijemur kemudian dibakar, sebelum akhirnya difinishing menggunakan cat tembok atau cat genteng.

Agus Surono (2019) mengatakan bahwa pada awalnya produk kerajinan di Kampung Kasongan tidak memiliki pola sama sekali. Namun legenda kematian seekor kuda telah menginspirasi para perajin untuk membuat motif kuda pada banyak produk.

Motif yang sering ditampilkan biasanya kuda-kuda yang membawa gerabah atau genteng lengkap dengan keranjang yang diletakkan di atas kuda-kuda tersebut. Selain itu, kini wisatawan bisa memesan berbagai motif lain sesuai keinginan. Variasi motif lain yang sering dijumpai seperti kodok, ayam jantan, gajah, bunga mawar, dll.

Desa Kasongan WIsata terletak di Dusun Kajen, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Terletak hanya sekitar 7 km dari pusat Kota Jogja, Desa Wisata Kasongan mudah dijangkau wisatawan.

Jika berangkat dari kota Yogyakarta, pilihlah jalan melalui Jalan Bantul ke arah selatan. Dari pertigaan Dongkelan (Jlan Lingkaran Selatan – Jalan Bantul) hanya membutuhkan waktu 15 hingga 20 menit hingga Anda akan menemukan pintu masuk Desa Wisata Kasongan di sisi kanan jalan.