liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
Mengenal Sejarah Tradisi Karapan Sapi Khas Masyarakat Madura

Tradisi Karapan Sapi merupakan lomba pacuan sapi yang menjadi ciri khas masyarakat Madura. Beberapa kota di Madura mengadakan tradisi Karapan Sapi pada bulan Agustus atau September. Kemudian final akan diadakan pada akhir September atau Oktober.

Biasanya acara pamungkas tradisi Karapan Sapi digelar di bekas Kota Karesidenan, Pamekasan untuk memperebutkan piala presiden bergilir yang kini berganti menjadi piala gubernur. Dalam perlombaan ini, sepasang lembu menarik semacam gerobak kayu tempat joki berdiri dan mengendalikan sepasang lembu tersebut.

Pasangan sapi didorong untuk bersaing secara cepat dengan pasangan lainnya. Lintasan balap yang digunakan dalam tradisi Karapan Sapi biasanya mencapai hingga 100 meter dan balapan akan berlangsung sekitar sepuluh detik hingga satu menit.

Tak hanya perlombaan, tradisi Karapan Sapi juga menjadi ajang festival rakyat dan event bergengsi bagi masyarakat Madura. Bahkan status sosial pemilik sapi karapan terangkat jika sapinya menjadi juara. Pasalnya hewan ini sering dijadikan bahan investasi dengan cara dilatih dan dirawat sebelum dilombakan. Dengan begitu, karap jantan akan sehat, kuat, dan mampu memenangkan persaingan.

Biaya pemeliharaan sepasang sapi cukup tinggi, berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 25 juta per bulan. Biaya tersebut digunakan untuk membeli makanan, obat-obatan dan pemeliharaan lainnya. Terkadang ternak diberi aneka jamu dan belasan telur ayam setiap hari, terutama sebelum bertanding di arena balap.

Tradisi Karapan Sapi melibatkan masyarakat luas. Diantaranya pemilik lumba-lumba, pekerja tongko yang bertugas mengendalikan lumba-lumba di kalele. Ada pula goyangan yang menahan sapi dengan tali kekang sebelum dilepas.

Selain itu, ada pengrajin gettak yang tugasnya menggertak ternak agar saat diberi aba-aba bisa mempercepat, serta pengrajin tonja yang menarik dan mengarahkan ternak. Terakhir, ada seorang penunggang banteng yang bersorak-sorai menyemangati para banteng untuk berlomba.

Parade Balap Sapi

Sebelum tradisi Karapan Sapi dimulai, sepasang sapi diarak mengelilingi arena pacuan diiringi gamelan Madura. Selain untuk melemaskan otot sapi, prosesi ini juga menjadi ajang untuk memamerkan keindahan pakaian dan ornamen sapi. Setelah pawai selesai, hanya pakaian dan semua dekorasi yang dibuka.

Setelah itu, kompetisi balap banteng akan dimulai. Yang pertama mulai menentukan posisi peserta. Pada babak ini para peserta akan menyusun strategi agar sapinya masuk kelompok ‘atas’ sehingga pada babak berikutnya (penyisihan) dapat bersaing dengan lumba-lumba ‘bawah’.

Kemudian babak penyisihan dibagi menjadi babak pertama, kedua, ketiga dan keempat atau babak final. Pada babak penyisihan ini, permainan menggunakan sistem gugur. Jadi, lumba-lumba yang kalah tidak bisa mengikuti kompetisi berikutnya.

Sedangkan sapi pemenang akan berhadapan dengan pemenang lomba lainnya. Begitu seterusnya hingga tersisa satu ekor sapi yang menjadi pemenang.

Jika diperhatikan, Karapan Sapi bukan sekedar kompetisi, tetapi juga mengandung nilai-nilai murni dalam kehidupan masyarakat. Seperti kerja keras, kerjasama, sportivitas, kompetisi, dan ketertiban.

Dilansir dari Kemdikbug.go.id, munculnya tradisi Karapan Sapi tidak lepas dari kondisi tanah yang tidak subur di Madura. Dengan keadaan alam seperti ini, masyarakat Madura lebih memilih menjadi nelayan atau peternak daripada petani. Bagi masyarakat petani, sapi juga digunakan untuk membajak sawah atau ladang. Karapan sapi sudah lama dikenal masyarakat Madura.

Ada juga yang mengatakan bahwa sejarah tradisi Karapan Sapi konon ada kaitannya dengan seorang ulama Sumenep bernama Syekh Ahmad Baidawi. Ahmad Baidawi alias Putera Katandur memperkenalkan cara bercocok tanam dengan sepasang alang-alang yang ditarik oleh dua ekor lembu. Pada awalnya Karapan Sapi diadakan untuk mendapatkan sapi yang kuat dan mampu membajak sawah. Namun lambat laun Karapan Sapi menjadi ajang kompetisi hingga sekarang.

Jenis-Jenis Ras Sapi

Tradisi karapan sapi terdiri dari beberapa jenis mulai dari karapan kecil di tingkat mukim hingga karapan di tingkat warga yang diikuti oleh para juara masing-masing daerah dan menjadi acara puncak. Setiap jenis tradisi Karapan Sapi juga didasarkan pada cakupan lomba dan panjang lintasan.

Sering Keni

Kerrap Keni atau Karapan kecil adalah nama sejenis Karapan Sapi. Kerrap Keni digelar di tingkat mukim atau kecamatan dengan lintasan sepanjang 100 meter. Pemenang Keni Kerrap akan mendapatkan hak untuk mengikuti Karapan Banteng di level yang lebih tinggi.

Sering Gambar

Juara Kerrap Keni akan berlaga di Kerrap Rajah atau Karapan besar ini yang memiliki ruang lingkup di tingkat kabupaten/kota. Panjang lintasan untuk jenis Bull Race ini mencapai 120 meter.

Sering Gubeng

Kerrap Gubeng atau Karesidenan Kerrap dilakukan pada tingkat eks Karesidenan Madura. Peserta lomba Gubeng Kerrap merupakan pemenang Rajah Kerrap. Jenis Karapan Banteng diadakan pada hari Minggu sebagai puncak untuk mengakhiri musim Karapan. Selain ketiga jenis tersebut, masih ada beberapa jenis Karapan Banteng lainnya seperti Onjangan atau Kerrap Undangan dan Kerrap Mengajar atau melatih.