liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Mengenal Tradisi Manene, Ritual Khas Suku Toraja

Berbagai suku dan daerah di Indonesia memiliki tradisi yang berbeda-beda, salah satunya adalah tradisi Manene. Tradisi unik masyarakat Toraja ini adalah upacara pembersihan sisa-sisa keluarga leluhur yang telah berusia puluhan tahun bahkan ratusan tahun.

Dalam buku berjudul “70 Tradisi Suku Unik di Indonesia” karya Fitri Haryani, tradisi Manene berawal dari seorang pemburu hewan bernama Pong Rumasek. Pada zaman dahulu Pong menemukan sesosok mayat yang kondisinya memprihatinkan.

Kemudian, Pong membawa jenazah tersebut pulang untuk mendandaninya dengan pakaian yang baik atau layak dan menguburnya di tempat yang aman.

Kemudian dari perbuatan Pong tersebut, ia mulai mendapat banyak keberkahan, mulai dari pertanian yang panennya lebih cepat dan hasilnya lebih baik. Pong mulai berpikir bahwa menghormati dan merawat orang lain akan diperlukan, meskipun orang tersebut sudah meninggal tetapi dapat merawatnya melalui jenazahnya.

Prosesi dalam Tradisi Manene

Tradisi Manene masih terjaga dengan baik dan telah diwariskan secara turun temurun kepada masyarakat Baruppu, di pedalaman Toraja Utara. Upacara Manene sendiri termasuk dalam upacara Rambu Solo atau yang sering disebut dengan upacara kematian.

Tradisi Manene dilakukan oleh masyarakat setiap tiga tahun sekali dan dilakukan secara bersama-sama atau serentak dengan warga desa lainnya. Tradisi ini dilakukan karena prosesi Manene memakan waktu yang cukup lama, yakni seminggu.

Adapun pelaksanaannya sendiri dilakukan setelah musim panen, karena jika dilakukan sebelum musim panen dianggap sial karena tanaman seperti sawah dan sawah akan rusak.

Tradisi Manene ini dilaksanakan pada bulan Agustus, dimana masyarakat Tana Toraja akan mengeluarkan peti jenazah dari Patane. Patane ini merupakan kuburan berupa rumah tempat menyimpan jenazah yang terletak di Lembang Paton, Sariale, Toraja Utara.

Dalam tradisi Manene, anggota keluarga yang masih hidup harus memenuhi beberapa syarat, salah satunya adalah pengorbanan minimal satu ekor hewan. Hewan yang dikorbankan biasanya babi atau kerbau.

Masyarakat Toraja sendiri percaya jika banyak hewan yang dikorbankan maka tingkat keabadian hidupnya akan semakin tinggi.

Tradisi Manene diawali dengan berkumpulnya seluruh anggota keluarga di Patane, kemudian sebelum mengeluarkan jenazah dari patane, orang tertua desa atau Ne’tomina akan mulai membacakan doa dalam bahasa Toraja Kuno.

Kemudian setelah didoakan oleh No’tomina, jenazah diperbolehkan dikeluarkan dari peti mati. Setelah jenazah dibersihkan dari debu atau kotoran, selanjutnya jenazah akan didandani dengan pakaian baru yang layak pakai dan terlihat rapi.

Setelah jenazah dibalut dengan pakaian yang baru dan bersih, kemudian dimasukkan kembali ke dalam peti mati yang baru. Dan setelah proses selesai, jenazah tidak langsung dimasukkan ke dalam patane, namun anggota keluarga biasanya akan merawat jenazah pada malam hari.

Keesokan harinya, keluarga akan menyembelih hewan tersebut dan melakukan ibadah bersama. Setelah kebaktian, peti mati dimasukkan kembali ke dalam patane. Tradisi Manene masih dilaksanakan hingga saat ini karena masyarakat Tana Toraja percaya tradisi ini merupakan penghormatan kepada mendiang Leluhue.

Tradisi Manene dilakukan dengan kepercayaan bahwa para leluhur akan memberikan berkah kepada keluarga atau kerabat yang masih hidup. Maka tidak heran jika banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengikuti tradisi ini, karena ingin menyaksikan sendiri tradisi unik ini.