liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Mengenal Tradisi Ngaben, Cara Masyarakat Hindu Bali Menuju Nirwana

Tradisi Ngaben adalah upacara ngaben tradisional yang dilakukan oleh umat Hindu, khususnya di Bali. Upacara Ngaben disebut juga dengan Pitra Yadyna, Pelebon, atau upacara ngaben.

Tradisi Ngaben bertujuan untuk melepaskan arwah orang yang sudah meninggal agar bisa masuk ke alam atas dimana mereka bisa menunggu untuk dilahirkan kembali atau bereinkarnasi.

Masyarakat Bali percaya bahwa tradisi ngaben juga dapat menyucikan arwah anggota keluarga yang telah meninggal ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Tradisi Ngaben merupakan upacara yang sakral dan meriah, tidak hanya bagi masyarakat Bali, tetapi juga bagi wisatawan. Menurut Tim Analisis Tempo dalam buku “Mengenal Ngaben Lebih Dalam: Tradisi Bakar Jenazah di Bali”, Ngaben berasal dari kata ‘beya’ yang artinya bekal. Ada juga yang mengatakan Ngaben berasal dari kata ‘ngabu’ yang berarti berubah menjadi abu.

Konsep dan Proses Tradisi Ngaben

Menurut kepercayaan umat Hindu di Bali, manusia terdiri dari badan kasar, badan halus, dan karma. Badan kasar manusia terdiri dari 5 unsur yang disebut Panca Maha Bhuta, yaitu tanah (padat), apah (cair), teja (panas), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa).

Kelima unsur ini bersatu membentuk tubuh manusia dan digerakkan oleh atma (jiwa). Ketika seseorang meninggal, hanya badan kasar yang mati, tetapi atma tidak.

Bagi masyarakat Bali, Ngaben merupakan peristiwa yang sangat penting, karena dengan melaksanakan tradisi ini, keluarga dapat membebaskan arwah orang yang telah meninggal dari ikatan duniawi untuk pergi ke surga dan menunggu reinkarnasi.

Dengan membakar jenazah atau secara simbolis kemudian membasuh abunya ke sungai atau laut memiliki makna melepaskan Atma (jiwa) dari belenggu dunia agar mudah menyatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam).

Pembakaran jenazah juga merupakan rangkaian tradisi Ngaben untuk mengembalikan semua unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur penyusun tubuh kasar manusia) ke asalnya masing-masing agar tidak menghalangi perjalanan Atma menuju Sunia Loka.

Bagi keluarga, tradisi Ngaben ini merupakan simbol bahwa keluarga telah ikhlas dan telah melepaskan yang bersangkutan. Jika Ngaben ditunda terlalu lama, roh tersebut akan mengembara dan menjadi bhuta yang berubah-ubah. Hal yang sama berlaku jika orang mati dikuburkan di tanah tanpa upacara yang layak.

Ini karena roh tidak melepaskan keterikatan mereka pada alam manusia. Maka perlu diadakan upacara Ngaben Bhuta Cuwil.

Tradisi Ngaben termasuk upacara yang mahal. Mereka yang memiliki dana cukup harus segera menerapkannya. Jika seorang pendeta meninggal dunia, maka Ngaben harus segera dilaksanakan, dan tidak boleh menyentuh tanah.

Proses upacara ngaben cukup panjang. Dimulai dengan Ngulapin, keluarga melakukan ritual meminta izin dan restu dari Dewi Kahyangan yang merupakan kekuatan Dewa Siwa.

Ngulapin dilakukan di Pura Dalem. Setelah itu dilakukan upacara Mesheh Lawang yang bertujuan untuk mengembalikan kecacatan atau kerusakan pada jenazah yang dilakukan secara simbolis.

Upacara Meseh Lawang dilakukan di catus pata atau di dekat kuburan. Selanjutnya, upacara Egyptam atau Mabersih, yaitu memandikan jenazah yang kadang berupa tulang belulang, dilakukan di rumah duka atau kuburan. Tahap pertama adalah upacara Ngaskara yang merupakan tahap awal dari upacara penyucian jiwa.

Dilanjutkan dengan Nerpana yang merupakan upacara persembahan persembahan atau persembahan kepada arwah orang yang sudah meninggal. Puncak dari prosesi Ngaben adalah Sawa Ngeseng, yaitu ngaben jenazah yang dilakukan di setra atau kuburan. Jenazah yang akan dikremasi ditempatkan di replika sapi yang disebut Petulangan.

Petulangan adalah tempat kremasi yang berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi makhluk halus menuju alam roh sesuai dengan hasil perbuatannya di dunia. Setelah jenazah dikremasi, dilakukan upacara Nuduk Galih, dimana pihak keluarga mengumpulkan sisa-sisa tulang (abu) jenazah setelah dikremasi.

Prosesi terakhir adalah Nganyut yaitu membasuh abu jenazah ke laut sebagai simbol kembalinya unsur air dan penyatuan kembali jiwa dengan alam.

Dalam tradisi Ngaben, semua warga banjar (sejajar dengan pilar masyarakat) harus membantu dalam persiapan. Banyak pertunjukan yang disiapkan dan berbagai keperluan prosesi dilakukan. Dua hal penting yang perlu dilakukan adalah kemauan dan usaha.

Badé adalah menara mirip pagoda dengan jumlah tempat ganjil untuk membawa orang mati. Patulugan adalah sarkofagus berbentuk hewan atau makhluk mitologi tempat jenazah akan dikremasi. Badé dan patulangan memiliki berbagai ukuran dan bentuk yang menunjukkan status sosial almarhum.

Sejak tahun 2000-an, fenomena bade beroda muncul. Artinya, akan dipasang roda agar bisa didorong. Wasiat beroda memungkinkan prosesi kremasi menjadi lebih sederhana tanpa membutuhkan banyak tenaga dan peralatan lain yang menghabiskan banyak biaya.

Jenis Tradisi Ngaben

Tradisi Ngaben di Bali tidak hanya dilakukan dengan membakar jenazah. Ada juga upacara pemakaman yang dikenal dengan Ngaben Beya Tanem.

Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Bali yang tinggal di pegunungan. Upacara ini tidak lepas dari unsur-unsur upacara dari zaman prasejarah hingga zaman Bali Kuno sebelum masuknya pengaruh Hindu dari Majapahit.

Dalam menjalankan tradisi Ngaben terdapat berbagai macam tata cara yang dilakukan, tergantung dari kemampuan keluarga almarhum. Tata cara pelaksanaan Tradisi Ngaben juga menganut prinsip adat secara turun temurun. Ada beberapa jenis upacara Tradisi Ngaben sebagai berikut:

1. Tradisi Ngaben Sawa Wedana

Tradisi Ngaben Sawa Wedana dilakukan saat jenazah masih utuh, atau belum dimakamkan terlebih dahulu. Tradisi ngaben ini dilakukan antara 3-7 hari setelah kematian.

2. Tradisi Ngaben Asti Wedana

Asti Wedana adalah upacara Ngaben yang melibatkan kerangka yang telah dikuburkan. Upacara ini juga dilanjutkan dengan upacara Ngagah yaitu upacara menggali kubur orang yang bersangkutan kemudian menyembah tulang belulang yang masih tersisa. Prosesi ini dilakukan sesuai dengan tradisi dan aturan desa setempat.

3. Tradisi Ngaben Privat

Private adalah upacara Ngaben tanpa memperlihatkan jenazah atau kerangka. Hal ini biasanya dilakukan karena beberapa alasan, seperti meninggal di luar negeri atau jauh, jenazah tidak ditemukan, dll.

Dalam upacara ini, tubuh biasanya dilambangkan dengan kayu cendana yang dicat dan diisi dengan karakter magis sebagai tubuh kasar atma seseorang.

4. Tradisi Ngaben Ngelungah dan Warak Kruron

Ngelungah adalah ritual bagi anak-anak yang giginya tidak tanggal. Sedangkan Warak Kruron adalah upacara yang dilakukan untuk bayi. Biasanya upacara ini dilakukan secara massal untuk menekan biaya tanpa mengurangi makna dari upacara tersebut.