liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
ronin86
cocol77
cocol77
cocol77
maxwin138
Mengenal Tradisi Omed-omedan, Ajang Cari Jodoh di Tanah Dewata

Tradisi Omed-omedan merupakan tradisi yang dilakukan oleh anak muda di Bali. Tradisi ini dilakukan saat Ngembak Geni atau hari pertama setelah hari raya Nyepi. Kini, daerah yang masih menjalankan tradisi Omed-omedan adalah Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar, Bali.

Tradisi Omed-omedan sudah ada sejak abad ke-17, dimana pada jaman dahulu ada dua ekor babi hutan yang berkelahi hingga keadaan tersebut membuat masyarakat Kampung Sesetan merasa kurang beruntung pada saat kejadian tersebut.

Dalam Tradisi Omed-omedan, pemuda setempat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu pemuda (laki-laki) dan pemuda (perempuan). Sebelum upacara omed-omedan dimulai, seluruh peserta yang mengikuti tradisi ini melakukan sembahyang bersama di Pura Banjar.

Saat melaksanakan salat, peserta memohon kesucian hati dan kelancaran dalam menjalankan ibadah omed-omedan. Setelah semua peserta berdoa, pertunjukan tari Barong Bangkung (Barong Babi) selanjutnya akan ditampilkan untuk mengenang peristiwa bentrokan sepasang babi hutan di Kampung Sesetan.

Kemudian kedua kelompok pria dan wanita ini mulai berbaris dan saling berhadapan yang akan dipandu oleh polisi adat (pecalang). Selanjutnya akan dipilih satu orang secara bergiliran dari masing-masing kelompok untuk diangkat, kemudian diarak ke posisi barisan paling depan.

Kedua kelompok kemudian bentrok dan kedua pria dan wanita di depan dipaksa untuk saling berpelukan. Kemudian ketika mereka berdua berpelukan, masing-masing kelompok mulai menarik kedua temannya, dan jika anak laki-laki dan perempuan itu tidak bisa melepaskannya, panitia akan memercikkan air hingga basah semua.

Selanjutnya kelompok laki-laki dan perempuan saling bertemu dan berpelukan erat, kemudian mereka akan saling menyentuh pipi, dahi, dan bibir.

arti yang salah

Tradisi Omed-omedan terkadang disalahartikan oleh masyarakat luar Bali. Tradisi Omed-omedan dianggap sebagai tradisi yang salah kaprah karena merupakan upacara cium-ciuman massal dari Desa Sesetan. Namun terlepas dari itu, Tradisi Omed-omedan merupakan tradisi unik yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Dilansir dari Denpasarkota.go.id, dulu masyarakat Desa Sesetan memandang tradisi Omed-omedan hanya bagian dari bentuk masima karma atau dharma shanti (menjalin silaturahmi) dengan sesama warga.

Namun seiring berjalannya waktu, tradisi Omed-omedan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Menyadari hal itu, masyarakat Kampung Sesetan kemudian menyulap Tradisi Omed-omedan menjadi festival warisan budaya tahunan bertema Festival Warisan Budaya Omed-omedan yang akan dimeriahkan dengan bazaar dan pentas panggung.

Dari tahun ke tahun pengunjung festival terus mengalami peningkatan, terutama yang tidak ketinggalan yaitu dari para peminat fotografi yang saling berlomba mengabadikan momen ini sebagai objek yang sangat menarik jika direkam melalui lensa kamera.

Tradisi Omed-omedan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17. Konon tradisi Omed-omedan ini berasal dari masyarakat Kerajaan Puri Oka yang terletak di Denpasar Selatan. Saat itu masyarakat berinisiatif membuat permainan tarik tambang. Seiring waktu, permainan ini menjadi lebih menarik dan berubah menjadi pelukan timbal balik. Aksi permainan itu membuat suasana riuh, Raja Puri Oka yang sakit parah geram. Ia merasa terganggu dengan suasana yang bising. Namun, ketika raja keluar dan melihat Omed-omedan bermain, penyakitnya sembuh.

Sejak saat itu, Baginda memerintahkan agar Omed-omedan diadakan setiap tahun, setiap kali api pertama atau Ngembak Geni dinyalakan setelah perayaan Hari Raya Nyepi. Tradisi Omed-omedan sudah dihentikan di Kampung Sesetan. Saat dihentikan, terjadi kejadian aneh dimana dua ekor babi saling berkelahi di depan pelataran pura. Masyarakat menganggap kejadian tersebut sebagai pertanda buruk, sehingga akhirnya Tradisi Omed-omedan kembali dilakukan.