liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Mengenal Tradisi Tabuik Khas Masyarakat Pariaman

Tradisi Tabuik merupakan salah satu tradisi yang dilakukan oleh Masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Tradisi ini menjadi acara tahunan yang dikenal dengan festival Tabuik. Tradisi Tabuik ini sudah berlangsung selama beberapa dekade dan diperkirakan sudah ada sejak abad ke-19 Masehi.

Acara Tradisi Tabuik merupakan bagian dari peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram. Sejarah mencatat bahwa Husein dan keluarganya tewas dalam pertempuran di gurun Karbala.

Dilansir dari Jurnalbpnbsumbar.kemdikbud.go.id, tradisi Tabuik diambil dari kata Arab ‘bahtera’ yang berarti kotak kayu. Nama tersebut merujuk pada sebuah legenda tentang penampakan makhluk berupa kuda bersayap dan kepala manusia yang disebut buraq.

Legenda mengatakan bahwa setelah kematian cucu Nabi, Hussein bin Ali, sebuah kotak kayu berisi potongan tubuh Hussein diterbangkan ke langit oleh sebuah buraq. Berdasarkan legenda tersebut, setiap tahun masyarakat Pariaman membuat tiruan buraq yang membawa tabut di punggungnya.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat secara turun temurun, tradisi tabuik ini diperkirakan muncul di Pariaman sekitar tahun 1826-1828 Masehi. Tradisi Tabuik pada masa itu masih kental dengan pengaruh dari Timur Tengah yang dibawa oleh masyarakat Syiah keturunan India. Pada tahun 1910, terjadi kesepakatan antar desa untuk mengadaptasi festival Tabuik dengan adat Minangkabau, sehingga berkembang menjadi seperti sekarang ini.

Tradisi Tabuik terdiri dari dua jenis yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Keduanya berasal dari dua daerah berbeda di Kota Pariaman. Tabuik Pasa (pasar) adalah kawasan di sisi selatan sungai yang membelah kota dari Pantai Gandoriah.

Daerah Pasa dianggap sebagai daerah dimana Tradisi Tabuik dimulai. Tabuik Subarang berasal dari daerah Subarang (luar), yaitu daerah di sisi utara sungai atau daerah yang dikenal dengan Kampung Jawa.

Petualangan Tradisi Tabuik

Pada awalnya Tradisi Tabuik hanya ada satu yaitu Tabuik Pasa. Sekitar tahun 1915, atas permintaan sekelompok orang, dibuatlah tabuik lagi. Berdasarkan kesepakatan para tetua desa, tabuik harus dibuat di daerah seberang Sungai Pariaman. Alhasil, tabuik kedua diberi nama Tabuik Subarang.

Salah satu kronik sesepuh masyarakat mencatat bahwa kejadian tersebut diperkirakan terjadi pada tahun 1916, namun ada juga riwayat yang menyebutkan pada tahun 1930. Pembuatan tabuik subaran masih mengikuti prosedur yang sebelumnya terjadi di Pasa. daerah.

Sejak tahun 1982, festival tabuik telah menjadi bagian dari kalender pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. Oleh karena itu, terjadi berbagai penyesuaian, salah satunya dalam hal waktu klimaks dari rangkaian ritual tabu ini. Jadi, meski prosesi awal ibadah tabuik masih dimulai pada 1 Muharram, pada saat perayaan Tahun Baru Islam, pelaksanaan acara puncaknya berbeda-beda dari tahun ke tahun, tidak lagi pada 10 Muharram.

Jejaring Tradisi Tabuik di Pariaman terdiri dari tujuh tingkatan upacara tabuik, yaitu pengambilan tanah, potong batang pisang, mataam, arak jari, arak sorban, tabuik naik pangkek, angkat tabuik, dan lempar tabuik ke laut. .

Prosesi pengambilan tanah dilakukan pada 1 Muharram. Pemotongan batang pisang dilakukan pada hari ke 5 Muharram. Mataam pada hari ke 7, dilanjutkan dengan peregangan jari pada malam hari. Keesokan harinya, diadakan upacara saroban mangarak.

Pada hari puncak, upacara Tradisi Tabuik naik ke pangkek, dilanjutkan dengan tabuik hoyak. Dulu hari puncak ini jatuh pada tanggal 10 Muharram, namun sekarang setiap tahunnya bervariasi antara tanggal 10-15 Muharram, biasanya disesuaikan dengan akhir pekan. Sebagai penutup, menjelang magrib tabuik diarak ke pantai dan dilarung ke laut.

Setiap tahun puncak acara Tradisi Tabuik selalu disaksikan oleh puluhan ribu pengunjung yang datang dari berbagai penjuru Sumatera Barat. Tidak hanya masyarakat lokal, tradisi ini juga mendapat perhatian banyak wisatawan mancanegara sehingga menjadi event besar yang dinantikan masyarakat setiap tahunnya. Pantai Gandoriah yang menjadi pusat perhatian seolah menjadi lautan manusia apalagi menjelang pawai Tabuik diarak ke pantai.