liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Mengulik Legenda Unik di Balik Kawasan Wisata Danau Maninjau

Kawasan wisata Danau Maninjau terletak di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Danau yang terletak di ketinggian 460 meter di atas permukaan laut (mdl) ini memiliki pemandangan alam yang menakjubkan sehingga mampu menarik wisatawan untuk mengunjunginya.

Danau ini terletak kurang lebih 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, 36 kilometer dari Kota Bukittinggi, dan 27 kilometer dari Lubuk Basung, Kabupaten Agam.

Danau Maninjau terbentuk akibat letusan gunung berapi dari Gunung Sitinjau sekitar 52.000 tahun yang lalu. Kaldera yang terbentuk dari letusan gunung berapi tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah danau dengan kedalaman hingga 108 meter. Kini, Danau Maninjau menjadi salah satu ikon tempat wisata Kabupaten Agam.

Legenda di Balik Kawasan Wisata Danau Maninjau

Dilansir dari laman kemdikbud.go.id, di balik keindahannya, Danau Maninjau memiliki kisah legendaris yang diceritakan masyarakat Minangkabau secara turun temurun.

Menurut legenda yang beredar di kalangan masyarakat sekitar, asal usul Tasik Maninjau ada kaitannya dengan cerita “Bujang Sembilan” yang mengisahkan tentang 10 bersaudara yang terdiri dari sembilan bujangan atau laki-laki dan satu perempuan.

Gunung Tinjau memiliki kawah yang sangat luas, namun dalam waktu singkat berubah menjadi danau. Peristiwa ini tidak lepas dari ulah Bujang Sembilan.

Bujang Sembil adalah nama sembilan bersaudara yang tinggal di sebuah desa di kaki Gunung Tinjau. Bujang Sembilan terdiri dari Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan Kaciak. Sebenarnya mereka adalah sepuluh bersaudara dengan seorang adik perempuan bernama Siti Rasani.

Orang tua mereka sudah lama meninggal, sehingga keputusan dalam rumah tangga dipegang oleh putra sulung bernama Kukuban. Mereka juga dianggap berkerabat dengan pemimpin di desa tersebut, Datuk Limbatang.

Bujang Sembilan dan Siti Rasani adalah anak-anak yang aktif sehingga Datuk Limbatang, paman mereka sering mengajari mereka keterampilan bercocok tanam dan mempelajari adat istiadat setempat.

Hal ini tak lepas dari janji Datuk Limbatang kepada adik perempuannya yang juga ibu dari kesepuluh bersaudara itu. Setiap kali Bujang Sembilan datang ke Bujang Sembilan, istri dan anak Datuk Limbatang yang bernama Giran menemaninya.

Pria bekerja di ladang, sementara wanita memasak dan membersihkan rumah. Semakin lama kemampuan Bujang Sembilan mengolah sawah semakin baik dan menghasilkan hasil yang melimpah. Sementara itu, Siti Rasani juga tumbuh menjadi wanita muda yang cantik dan baik hati.

Tak disangka, karena sering bertemu, timbul rasa cinta antara Siti Rasani dan Giran. Setelah berani angkat bicara di depan kedua keluarga, hubungan mereka pun direstui oleh kedua keluarga.

Hubungan itu berjalan mulus hingga pada perayaan panen, Kukuban dan Giran saling berhadapan dalam unjuk ketangkasan pencak silat. Giran yang menangkis serangan itu mematahkan kaki Kukuban, membuat putra sulungnya terhina.

Sejak itu Kukuban menyimpan dendam, hingga suatu hari Datuk Limbatang datang menyampaikan keinginan Giran untuk melamar Siti Rasani. Kukuban menolak mentah-mentah niat baik tersebut karena masih menyimpan dendam kepada Giran.

Ini membuat Siti Rasani dan Giran sedih, dan mereka memutuskan untuk berbicara di tepi sungai untuk mencari jalan keluar agar mereka bisa menikah. Sayangnya, setelah berdiskusi panjang, mereka tidak menemukan jalan keluar dan akhirnya Siti Rasani memutuskan untuk pulang.

Baru saja dia akan pergi, sebuah pohon duri merobek sarung yang dia kenakan, dan pahanya terluka. Tiba-tiba Giran langsung mencari tanaman obat untuk mengobati kaki kekasihnya itu. Tiba-tiba Bujang Sembilan datang bersama warga dan dengan marah menuduh mereka melakukan hal yang tidak pantas.

Sidang adat digelar untuk menentukan nasib kedua sejoli itu, namun Bujang Sembilan mengurung keduanya. Pembelaan Siti Rasani dan Giran tidak terdengar dan akhirnya hukuman dijatuhkan dengan alasan agar desa mereka terhindar dari bencana.

Keduanya lalu dibawa ke kawah Gunung Tinjau, hukuman yang telah diputuskan adalah Siti Rasani dan Giran harus dibuang ke kawah. Sebelum diasingkan, Giran berdoa kepada Tuhan untuk keadilan. Dia meminta agar Gunung Tinjau Eruptus dan Bujang Sembilan dikutuk.

Benar saja, setelah keduanya terlempar ke dalam kawah, gunung tersebut meletus dan memuntahkan lahar yang menghancurkan semua orang tanpa ada yang selamat. Bekas letusan kemudian menjadi cekungan berisi air dan menjadi danau yang indah.

Saat Bujang Sembilan dikutuk, mereka berubah menjadi ikan dan tinggal di sebuah danau yang kini dikenal dengan nama Tasik Maninjau.

Danau Maninjau juga merupakan sumber air dari sungai di sekitarnya yaitu Sungai Batang Sri Antokan. Di sekitar danau ini terdapat sebuah bukit yang cukup tinggi yaitu Puncak Lawang. Wisata Puncak Lawang tak kalah menarik dengan Tasik Maninjau.

Daya tarik Danau Maninjau terletak pada keindahan panorama alamnya yang dapat dilihat dari jauh. Bagi penyuka fotografi, keindahan Danau Maninjau bisa dijadikan spot foto yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Sumatera Barat.

Tempat terbaik untuk melihat dan menatap Danau Maninjau adalah di tengah kawasan yang disebut kelok 44 yang berada di sekitar kelok 23 hingga kelok 30. Di kawasan ini terlihat pemandangan hamparan Danau Maninjau yang dihiasi persawahan yang subur. sangat cantik.