liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
Menilik Sejarah Pembangunan Selokan Mataram Yogyakarta

Pekerjaan restorasi Parit Mataram yang berlangsung sejak Juni 2021 mulai mempengaruhi aktivitas masyarakat Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta.

Seperti diketahui, saluran irigasi yang menghubungkan dua sungai besar di DI Yogyakarta, yakni Sungai Opak dan Sungai Progo, yakni Parit Mataram, ditutup sementara untuk pekerjaan restorasi.

Mengutip merdeka.com, tercatat 544 hektare (ha) sawah terdampak penutupan Selokan Mataram. Selain itu, ada juga kawasan lain yang terdampak yakni tambak ikan seluas 230.120 meter persegi (m2), 55 ekor sapi, dan 33 ekor domba.

Dilansir dari situs dprd-diy.go.id, rehabilitasi Selokan Mataram ditargetkan selesai pada Desember 2023. Sehingga butuh waktu kurang lebih 1,5 tahun untuk mengoptimalkannya.

Melihat luasan lahan yang terkena dampak, sangat terasa pentingnya peran Mataram Drain di DI Yogyakarta. Saluran irigasi ini memiliki sejarah yang cukup unik, terutama terkait dengan tujuan pembangunannya. Berikut ulasan tentang sejarah Sewer Mataram.

Sejarah Parit Mataram

Kanal Mataram, atau Kanal Yashiro dalam bahasa Jepang, merupakan saluran irigasi yang menghubungkan dua sungai besar di sebelah timur Yogyakarta. Saluran irigasi ini mengairi lahan pertanian seluas 15.734 ha dan selesai dibangun pada tahun 1944.

Parit Mataram merupakan salah satu peninggalan sejarah yang masih bisa disaksikan hingga saat ini. Peninggalan tersebut berupa saluran yang membentang dari barat ke timur, menghubungkan sungai Progo dan sungai Opak.

Dalam buku berjudul “Parit Mataram”, sejarah perkembangan Selokan Mataram dimulai pada masa pemerintahan Jepang. Saat itu, banyak orang dikirim ke berbagai distrik dan dijadikan kerja paksa atau romusha. Mereka harus membangun berbagai infrastruktur untuk mendukung kepentingan tentara Jepang melawan.

Nasib kaum pribumi yang dikirim ke proyek kerja paksa sampai ke telinga penguasa Keraton Yogyakarta saat itu, Sultan Hamengkubuwono IX. Dia takut nasib yang sama akan menimpa rakyatnya.

Sultan Hamengkubuwono IX kemudian berusaha mencegah masyarakat Yogyakarta direkrut menjadi pekerja romusha. Ia kemudian mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan warga Yogyakarta membangun saluran irigasi sepanjang 30 kilometer (km) dari Sungai Progo hingga Sungai Opak.

Pembangunan Parit Mataram dijadikan alasan bagi masyarakat adat untuk menghindari kewajiban romusha. Dengan alasan tenaga kerja masih dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek saluran irigasi, kebutuhan pemasangan jembatan dan lain-lain yang membutuhkan banyak tenaga kerja.

Sultan Hamengkubuwono IX mengatakan kepada Jepang bahwa Yogyakarta adalah daerah yang kering. Satu-satunya produk yang dijadikan makanan pokok adalah singkong yang diolah menjadi makanan pokok.

Salah satu gagasan Sultan Hamengkubuwono IX adalah proyek pembangunan Kanal Mataram yang menghubungkan sungai Progo dan Opak.

Melalui pengaruhnya yang kuat, ia menginformasikan Jepang tentang situasi di wilayah Yogyakarta. Dikatakannya, jumlah penduduk dan kondisi lahan pertanian mereka sangat memprihatinkan karena masalah irigasi.

Diplomasi Sultan Hamengkubuwono IX membuahkan hasil yang positif. Jepang menyetujui pembangunan kanal untuk irigasi, yang dikenal sebagai Kanal Yoshiro selama pemerintahan Jepang dan sekarang dikenal sebagai sistem Kanal Mataram.

Seiring waktu, Parit Mataram tidak hanya digunakan sebagai saluran irigasi. Parit Mataram saat ini dimanfaatkan untuk irigasi tambak, pembangkit listrik tenaga air di desa Brigo (PLTA) bahkan sebagai obyek wisata.

Konon, penyatuan kedua sungai di tanah Mataram ini diramalkan oleh Raja Joyoboyo, pembawa kejayaan Kerajaan Kediri yang memerintah antara tahun 1135-1159.

Prabu Joyoboyo memang dipercaya sebagai titisan Betara Wisnu, atau penjaga keamanan dan kesejahteraan dunia, yang ramalannya sering menjadi kenyataan.

Sebagian masyarakat Yogyakarta yang terlibat dalam pembangunan Terusan Mataram mempercayai pernyataan Joyoboyo bahwa, “Jika Kali Progo menikah dengan Kali Opak, Mataram akan makmur”.

Ungkapan tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai faktor pendorong dibangunnya Sewer Mataram.