liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Menyelami Kisah Warok Suromenggolo dalam Cerita Rakyat Ponorogo

Warok Suromenggolo adalah tokoh sakti dalam legenda yang berkembang di masyarakat Ponorogo, Jawa Timur. Kisah legendaris warok sakti ini menjadi cikal bakal beberapa kesenian khas Ponorogo, seperti reog.

Mengutip buku “Manusia Langka Indonesia” karya Sagimun Mulus, ada beberapa versi cerita rakyat setempat tentang sosok Warok Suromenggolo.

Meski pada umumnya cerita yang berkembang di masyarakat setempat menceritakan tentang kesaktian warok disertai intrik politik dan kisah cinta yang pedas.

Kisah Singkat Warok Suromenggolo

Warok Suromenggolo, diperkirakan hidup pada awal Kerajaan Majapahit. Ia konon memiliki tali penarik sakti yang bisa membunuh lawan. Pusaka lainnya yaitu Luyung Bang bisa menghidupkan orang mati.

Warok Suromenggolo memiliki nama asli Suryolono. Ia adalah putra Ki Ageng Kutu, penguasa Wengker (Ponorogo). Pada masa pemerintahan ayahnya, Suromenggolo diberi tugas untuk menguasai Wengker bagian timur.

Setelah ayahnya kalah, ia dijadikan pengawal Demang Kertosari dan Raden Bathara Katong saat menjadi duli.

Konon pada jaman dahulu Kadipaten Trenggalek semrawut dan tidak stabil karena sering terjadi pencurian, perampokan dan gangguan. Adipati Trenggalek meminta Warok Gunaseco atau Ki Secodarmo memadamkan para pembuat onar dan berhasil. Kadipaten Trenggalek kembali damai dan tenang.

Sebagai tanda terima kasih, Adipati Trenggalek memberikan bingkisan dan penghargaan kepada Ki Secodarmo beserta kerabat dan muridnya, bahkan putra Ki Secodarmo, Roro Suminten, diangkat menjadi menantu dan akan disejajarkan dengan putra Adipati, Raden Subroto.

Namun, Raden Subroto diam-diam menghilang dari kadipaten karena tidak bersedia menikah dengan Roro Suminten. Akibatnya, Ki Secodarmo dan kerabatnya yang telah menyiapkan pesta pernikahan sangat terpukul, bahkan sang pengantin baru Roro Suminten pun ikut tergila-gila.

Dalam perjalanannya, Raden Subroto bertemu dengan Roro Warsiyani (Cempluk), putra Ki Suromenggolo, Warok dari Desa Ngampal. keduanya saling jatuh cinta. Warok Suromenggolo dengan senang hati menerima lamaran Raden Subroto, kemudian keduanya disandingkan menjadi suami istri.

Selanjutnya, pengantin Subroto dan Cempluk membawa mereka ke Kadipaten Trenggalek. Pada perayaan itu, si gila Roro Suminten datang dan menari dengan gembira.

Semua orang melihatnya, tapi tidak ada yang mengenalinya sebagai Roro Suminten. Warok Singo Korba, adik Secodarmo, merasa sakit hati melihat Cempluk bahagia. Dalam benak Singo Cobra, Cempluk adalah penyebab gagalnya pernikahan dan kegilaan Suminten.

Dalam liputan balas dendam, Singo Korba menusuk Cempluk dengan keris saktinya lalu menghilang. Rombongan menjadi gempar dan gelisah ketika melihat Cempluk tergeletak tak berdaya dan berlumuran darah.

Karena kesaktiannya, Warok Suromenggolo mampu menyembuhkan Cempluk dengan batu pusaka Ruyung Bang pemberian gurunya, Batara Katong.

Melihat putri kesayangannya terluka, Warok Suromenggolo tidak terima. Dia mencari Singo Cobra untuk membalas dendam. Dalam pencariannya, Warok Suromenggolo bertemu dengan Ki Secodarmo. Kemudian masalah sebenarnya terungkap.

Namun perkelahian terus berlanjut diantara keduanya yang berakhir dengan meninggalnya Ki Secodarmo. Singo Cobra melihat saudaranya yang ahli silat dibunuh dengan cara membelah pati dengan menantang Warok Suromenggolo untuk berduel yang mengakibatkan Singo Cobra terbunuh dengan harta pusakanya sendiri.

Karena kemurahan hatinya, Warok Suromenggolo dengan kesaktiannya menyembuhkan Suminten dan meminta Raden Subroto menikah dengan Suminten sebagai istri keduanya.

Menginspirasi Reog Ponorogo

Kisah Warok Suromenggolo juga hadir dalam salah satu cerita legenda pelopor seni reog Ponorogo yang terkenal hingga saat ini.

Sejarah reog Ponorogo diawali dengan lahirnya reog karya Demang Ki Ageng Kuthu Suryongalam, wakil Kerajaan Majapahit di Ponorogo pada masa pemerintahan Bhre Kertabumi yang bergelar Brawijaya V (1468-1478).

Kuthu menganggap raja gagal memimpin rakyat secara adil karena dipengaruhi oleh ratu. Kuthu mengumpulkan warok untuk dilatih sebagai prajurit.

Namun niat berkhianat itu tidak terpenuhi dan Warok diajak bermain seni reog. Dalam barongan, raja digambarkan sebagai kepala harimau yang ditunggangi burung merak berbulu indah.

Ini adalah sindiran halus bahwa raja telah dihalau oleh ratu. Salah satu warok yang cukup terkenal pada masa itu adalah Warok Suromenggolo,

Namun bagi masyarakat Jawa Tengah, Warok Suromenggolo bukanlah tokoh idola atau pemujaan. Bahkan dalam versi Ketoprak Mataram (Yogyakarta), ia lebih dikenal sebagai sosok ambisius yang ingin meraih kedudukan setara Adipati Trenggalek.

Selain itu, ada pandangan bahwa dia adalah karakter yang tega membunuh sesama Warok. Misteri hubungan Warok dan Gemblak yang konon berkembang di Ponorogo juga menjadi alasan.