liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Menyelami Sejarah Tradisi Kasada Suku Tengger

Tradisi Kasada ini merupakan upacara adat suku Tengger yang masih sering diadakan hingga sekarang. Suku Tengger mengadakan tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar dijauhkan dari bencana. Tradisi ini dilakukan setiap 14 atau 15 bulan sekali menurut penanggalan suku Tengger pada tengah malam bulan purnama.

Suku Tengger merupakan masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo. Masyarakat Tengger umumnya menganut agama Hindu. Agama Hindu yang diyakini oleh masyarakat Tengger telah menyatu dengan budaya asli Tengger. Misalnya menggunakan “hong ulun basuki abadi” dalam artian Tuhan terus memberi kita keselamatan abadi.

Suku Tengger terkenal dengan keragaman budayanya dan salah satu ritual yang populer di kalangan masyarakat luas adalah ritual Kasada atau Yadnya Kasada. Tradisi Kasada dilakukan dengan membuang hasil bumi ke kawah Gunung Bromo. Dalam perkembangannya, ritual ini menjadi salah satu hari raya umat Hindu Tengger.

Sejarah Tradisi Kasada Suku Tengger

Dikutip dari buku berjudul “Upacara Kasada dan Beberapa Adat Adat Suku Tengger”, sejarah Tradisi Kasada dimulai dari sepasang suami istri yang semakin beranjak dewasa dan belum juga dikaruniai keturunan. Kedua orang itu bernama Kyai Seger dan Nyai Anteng. Hingga pada suatu hari kedua pria tersebut bertapa di kaki Gunung Bromo dan memohon agar diberikan seorang anak.

Saat mereka berdua merenung, sebuah suara bergema. Suara itu berkata, “Kamu akan segera memiliki dua puluh lima anak. Tapi kamu harus mengorbankan anak pertama ke kawah ini. Jika tidak, bencana yang mengerikan akan menimpamu.”

Lalu tanpa berpikir dua kali suami istri tersebut menyetujui permintaan tersebut. Waktu terus berjalan hingga Kyai Seger dan Nyai Anteng dikaruniai seorang pangeran bernama Kusuma.

Tak lama kemudian, mereka akhirnya memiliki 25 anak, hingga suatu hari Gunung Bromo yang sunyi mengeluarkan suara gemuruh dan asap tebal, dan tiba-tiba sepasang suami istri teringat akan janji mereka dan akhirnya dengan enggan mulai melemparkan Kusuma ke dalam kawah.

Hari-hari pun berlalu dengan baik hingga Kusuma mempertanyakan apa yang menyebabkan Gunung Bromo mengeluarkan suara yang begitu keras Mengetahui hal tersebut, Kusuma mulai memikirkan nasib orang tua, keluarga dan kerabatnya dan siap menjadi korban.

Kemudian, Kusuma akhirnya terjun ke kawah Gunung Bromo yang labil hingga gunung tersebut tidak bergolak lagi dan membuat masyarakat sekitar mulai merasa tenang.

Tujuan utama dari tradisi Kasada ini juga dilakukan pada bulan kesepuluh untuk menghormati semangat Kusuma dan berharap panen yang melimpah serta menangkal penyakit. Tradisi kasada merupakan upacara syukuran, dengan harapan agar dikemudian hari terhindar dari berbagai bencana.

Selain itu, masyarakat Tengger juga berdoa agar hasil panen baik dan melimpah. Tradisi kasada ini dilakukan setiap tahun dalam penanggalan Jawa. Saat sesaji dilempar ke kawah Gunung Bromo, orang-orang harus berlari menyusuri tepian kawah dan berebut dengan hati-hati untuk mendapatkan sesajen tersebut.

Pelaksanaan Tradisi Kasada diawali dengan masyarakat Tengger membuang semua hasil buminya ke kawah Gunung Bromo, termasuk hewan ternak.

Tradisi Kasada juga sering disebut sebagai hari raya kurban umat Hindu Tengger. Lima hari sebelum pelaksanaan tradisi Kasada, ada Yatya Kasada yang digelar dengan berbagai tontonan berupa tarian, pacuan kuda, jalan santai, dan pameran.

Tradisi Kasada memiliki kaitan yang sangat erat dengan pertunjukan Wayang Topeng Tengger karena salah satu sumber lakon Wayang Topeng Tengger yaitu lakon ‘Asal Usul Tengger’. Sampai saat ini upacara Kasada masih menjadi salah satu hari raya umat Hindu Tengger yang masih terjaga dengan baik.