liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Sejarah Surabaya, Kota Pahlawan hasil Pertarungan Sura dan Baya

Surabaya merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia. Kota yang memiliki luas sekitar 350,54 km2 ini berpenduduk lebih dari 5 juta jiwa. Selain menjadi kota terbesar kedua setelah DKI Jakarta, dalam sejarah Surabaya juga dikenal sebagai Kota Pahlawan. Hal itu terjadi karena perjuangan arek-arek Surabaya yang begitu gigih mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah pada 10 November 1945.

Dikutip dari situs resmi Surabaya.go.id, keberadaan kota Surabaya diketahui telah ada sejak 31 Mei 1293. Istilah Surabaya terdiri dari kata sura (berani) dan baya (bahaya), yang kemudian secara harfiah berarti . diartikan sebagai berani menghadapi bahaya yang akan datang.

Dalam sejarah Surabaya, berdirinya kota ini tidak lepas dari peperangan antara Raden Wijaya dengan pasukan Mongol, China. Pertempuran yang terjadi pada tanggal 31 Mei 1273 itu dimenangkan oleh Raden Wijaya. Setelah berhasil mengusir pasukan Mongol, Raden Wijaya kemudian diangkat sebagai raja pertama Kerajaan Majapahit pada 10 November 1293.

Pada masa Majapahit, Surabaya merupakan pintu gerbang utama akses perdagangan karena terletak di pesisir utara Pulau Jawa. Hal ini kemudian menjadikan Surabaya sebagai kota perdagangan dan pelabuhan penting pada masa Majapahit pada abad ke-14.

Pada abad ke-19, penjajah Belanda mengubah pelabuhan utama Surabaya menjadi pusat pengumpulan. Di mana, kegiatan pengumpulan hasil perkebunan dari pedalaman timur Pulau Jawa dilakukan di sana, untuk kemudian diekspor ke Eropa.

Sama seperti Pahlawan

Sejarah Surabaya identik dengan nilai-nilai kepahlawanan. Kepahlawanan rakyat Surabaya yang paling terkenal adalah pertempuran 10 November 1945. Pertempuran tersebut merupakan pertempuran pertama bagi bangsa Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dalam pertempuran itu, Suroboyo (sebagai orang dari Surabaya) bersenjatakan tongkat bambu runcing dengan gagah berani melawan pasukan kolonial.

Dalam peristiwa itu, puluhan ribu orang tewas saat berjuang mempertahankan tanah airnya. Peristiwa heroik ini dikenal dengan Hari Pahlawan yang diperingati setiap tahun. Hal inilah yang membuat Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan. Istilah Surabaya terdiri dari kata sura (berani) dan baya (bahaya), yang kemudian secara harfiah berarti berani menghadapi bahaya yang akan datang.

Sejarah Surabaya juga diwarnai oleh cerita rakyat yang terkenal yaitu pertarungan antara hiu sura dan buaya. Dalam buku Sejarah Kota Surabaya (2018) karya Priyo Jatmiko, dulu pernah terjadi perkelahian antara Sura dan Baya di lautan luas.

Kedua hewan ini dikenal sama-sama kuat, gesit, cerdas, dan rakus. Mereka telah bertarung berkali-kali tetapi tidak ada yang pernah menang atau kalah. Kemudian mereka membuat kesepakatan dengan membagi kekuatan menjadi dua.

Alhasil, Sura memiliki kekuatan penuh di dalam air dan harus mencari mangsa di dalam air. Sedangkan Baya menguasai daratan dan korbannya harus berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan perairan adalah tempat yang dicapai oleh air laut pada saat air pasang. Banyak yang mengatakan bahwa asal usul kota Surabaya berasal dari kisah pertempuran antara Sura dan Baya.