liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Tradisi Rebo Wekasan, Sejarah dan Peringatannya di Berbagai Daerah

Rebo Wekasan atau Rabu Terakhir dalam bahasa Indonesia merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Madura. Seperti namanya, tradisi ini akan diadakan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam penanggalan Islam atau Hijriah. Pada tahun 2022, Kiamat jatuh pada hari Rabu, 21 September 2022.

Rebu Wekasan diyakini sebagai hari sial bagi sebagian orang, sehingga diperlukan tirakat atau usaha untuk mencegah terjadinya kesialan. Kegiatan yang biasa dilakukan untuk memperingati tradisi ini bisa bermacam-macam, mulai dari tahlilan, zikir berjamaah, salat khitanan, bahkan berbagi makanan yang diyakini bisa menangkal malapetaka.

Bagi umat Islam, tradisi ini diyakini sebagai hari pertama Nabi Muhammad SAW jatuh sakit dan kemudian wafat.

Sekilas tentang Tradisi Rebo Wekasan

Mengutip laman islam.nu.or.id, tradisi Rebo Wekasan mulai digelar pada masa kejayaan Wali Songo. Saat itu, banyak ulama yang mengatakan bahwa di bulan Safar ada lebih dari 500 jenis penyakit yang turun ke bumi.

Untuk mengantisipasi datangnya penyakit dan untuk menghindari malapetaka, para ulama juga melakukan tirakat dengan banyak berdoa dan memohon. Kegiatan ini bertujuan untuk menjauhkan mereka dari segala penyakit dan musibah yang dipercaya jatuh pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Hingga kini tradisi ini masih dilestarikan oleh sebagian umat Islam di Indonesia dengan sebutan Rebo Wekasan atau Rabu Wekasan.

Namun ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa tradisi Rebo Wekasan baru muncul pada awal abad ke-17 di Aceh, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku.

Tradisi Rebo Wekasan juga dilakukan oleh beberapa komunitas di berbagai daerah di Indonesia. Rebo Wekasan di Aceh dikenal dengan nama Makmegang.

Makmegang dilakukan dengan berdoa di tepi pantai dipimpin oleh seorang Teungku, dan dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, dan berbagai elemen masyarakat Aceh.

Di Jawa, tradisi Rebo Wekasan biasanya dilakukan oleh masyarakat pesisir dengan caranya sendiri. Misalnya di Banten dan Tasikmalaya, tradisi Rebo Wekasan dilakukan dengan menggelar doa bersama pada Rabu pagi terakhir bulan Safar.

Di Banyuwangi, tradisi Rebo Wekasan diperingati dengan menggelar tradisi memetik laut di Pantai Waru Doyong. Selain itu, ada juga tradisi Rebo Wekasan di Banyuwangi yang digelar dengan memakan nasi yang dibuat khusus di pinggir jalan.

Di Kalimantan Selatan, tradisi Rebo Wekasan disebut Arba Mustamir yang dilaksanakan dengan berbagai cara, seperti sholat sunnah dan diiringi dengan doa tolak bala. Selain itu, ada juga penyelamat desa dengan tidak bepergian jauh, tidak melanggar pantangan, bahkan mandi safar untuk menghilangkan sial.

Tradisi Rebo Wekasan juga dirayakan di Wonokromo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tradisi ini dilakukan dengan membuat lemper raksasa dan membagikannya kepada masyarakat yang hadir dalam acara ini.

Sejarah Di Balik Tradisi Rabu Terakhir

Mengutip Kemendikbud.go.id, sejarah keberadaan tradisi Rebo Wekasan di Yogyakarta tercatat memiliki dua versi berbeda.

Versi pertama, Rebo Wekasan, konon sudah ada sejak tahun 1784. Saat itu, hiduplah seorang tokoh bernama Mbah Faqih Usman atau dikenal dengan sebutan Kyai Wonokromo Pertama atau Kyai Welit.

Masyarakat percaya bahwa Kyai mampu menyembuhkan penyakit dengan membacakan ayat-ayat Alquran dalam segelas air dan meminumnya kepada pasien.

Kemampuan Mbah Kyai Faqih semakin berkembang, hingga terdengar oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I. Untuk membuktikan kemampuannya, Sri Sultan Hamengkubuwana I mengirimkan empat prajurit untuk membawa Mbah Kyai Faqih ke istana.

Ternyata ilmu Mbah Kyai terbukti dan terpuji. Sepeninggal Mbah Kyai Faqih, masyarakat juga meyakini bahwa mandi di perang Kali Opak dan Kali Gajahwong dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membawa berkah.

Versi kedua, upacara Rebo Wekasan tak lepas dari Sultan Agung, penguasa Mataram, yang dulunya memiliki keraton di Pleret. Upacara adat ini mulai diadakan sekitar tahun 1600.

Saat itu Mataram sedang dilanda wabah atau wabah. Kemudian diadakan upacara untuk menghindari wabah tersebut. Ritual tersebut dilakukan oleh Kyai Welit, dengan cara mendorong berupa tato bertuliskan basmalah dalam 124 baris tulisan Arab.

Tato tersebut dibungkus dengan kain mori putih dan dimasukkan ke dalam air, kemudian diberikan kepada orang yang sakit. Karena khawatir airnya tidak cukup, Sultan Agung akhirnya memerintahkan agar sisa air bertato itu dialirkan ke sungai Opak dan Gajahwong.